Sahabat..pernahkah kita melihat atau memperhatikan perbedaan dan persamaan antara calo dengan kondektur? Pernahkah kita terpikir apa ya yang bisa membedakan dan menyamakan antara keduanya, atau mungkin sahabat belum pernah melihat keduanya? Wah…maen atuh ke terminal atau pasar…hehe..

Kalau kita perhatikan mereka sama-sama sering teriak untuk menunjukkan jurusan suatu kendaraan umum, kondektur sama meneriakkan jurusan dari angkutannya, calo juga demikian. Namun ada satu perbedaan yang prinsipil disitu, yaitu kalau kondektur terus teriak dan sampai ke tujuan namun sang calo dia teriak namun tidak sampai ke tujuan…benarkan? sang calo teriak-teriak saja namun tidak beranjak dari terminal itu, berbeda dengan sang kondektur dia teriak namun dia juga ikut mengantarkan kendaraannya sampai ke tujuan.

Sudah mengertikan apa persamaan dan perbedaannya? Tapi dari situ saya berpikir ternyata ada hikmah yang bisa kita gali, manusia bisa terbagi menjadi dua macam karakteristik…ya seperti halnya kondektur dan calo tadi, ada yang hanya bisa teriak-teriak saja namun dia sendiri tidak berangkat, namun ada juga yang teriak-teriak tapi dia terus mengingatkan dan akhirnya sampai ke tujuan. Ada manusia yang hanya bisanya bicara saja namun tidak ada aksi dalam artian NATO (No Action Talk Only), ya seperti calo tadi. Namun ada juga yang mampu berbicara namun juga dibarengi dengan action jadi do’a dibarengi dengan ikhtiar.

Seperti halnya di negeri ini, banyak orang yang jago berbicara namun pada kenyataannya tidak aksi bahkan dia melakukan apa yang mungkin dia pertentangkan. Sekarang bagaimana dengan sahabat semua, sudahkah kita berani berkicau dengan dibarengi aksi? Jangan hanya berdo’a tapi tak ada ikhtiar yang membarenginya. Sungguh Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya, begitulah kata Sang Penguasa alam ini berbicara dalam surat cintaNya. Dalam artian bahwa kita mau jadi apa, maka kita harus berusaha untuk meraihnya jangan hanya bisanya ongkang-ongkang kaki menunggu keajaiban yang datang, namun harus dibarengi dengan usaha yang maksimal.

Seperti halnya tadi sang kondektur terus berteriak dalam artian disini adalah terus berdo’a namun juga sambil jalan yang kalau kita artikan disini adalah ikhtiar, hingga akhirnya sampai ke tujuan yang dituju. Sahabat teruslah berdo’a jangan sampai putus harapan, karena sesungguhnya orang yang berputus asa itu akan terlepas dari rahmatNya. Sungguh do’a itu adalah obat, sungguh do’a itu adalah senjata, sungguh do’a itu adalah kekuatan, sungguh do’a itu adalah bahan bakar. Agar mesin ikhtiar semakin mantap dan akhirnya sampai pada keridhoan Allah.

Hanya keridhoan Allah semata yang harus kita tuju, apapun bentuk usaha kita selama Allah ridho maka akan membawa ketenangan, sekecil apapun hasil yang diperoleh manakala Allah ridho maka hal itu sungguh tak ternilai oleh dunia dan seluruh isinya.

Selamat menikmati do’a dan selamat menjalankan ikhtiar untuk para sahabat semua, apapun ikhtiarnya senantiasa haruslah dibarengi dengan do’a dan istiqomah. Bagi yang mencari jodoh, teruslah perkuat do’a demikian juga yang akan melakukan usaha apapun itu…sekali lagi selamat menikmati ikhtiar di jalanNya…

Depok, 29 Oktober 2012

Source gambar: http://memo.blogombal.org/tag/metromini/