Manakala Allah sayang kita maka kita akan senantiasa diberikan cobaan, yang bentuknya bisa berupa kesenangan maupun bisa juga berupa kepahitan. Jangan kita kira sesuatu yang manis itu adalah sebuah kenikmatan, bisa jadi itu merupakan sebuah ujian apakah kita mampu melewatinya dengan cara kesyukuran ataukah kita kalah dengannya karena virus kekufuran dan kesombongan. Jangan pula kita pandang sesuatu yang pahit itu merupakan suatu musibah, bisa jadi itu merupakan sebuah ujian apakah kita mampu melewatinya dengan menempuh jalan kesabaran serta keikhlasan ataukah kita kalah karena lebih turutkan hawa nafsu dengan menggadai keimanan kita.Sungguh segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya, tak ada segala sesuatu di dunia ini yang tak ada hikmahnya sedikitpun. Bahkan daun yang jatuhpun tak luput dari berjuta hikmah yang terkandung di dalamnya, bahkan sebuah apel yang jatuh bisa menjadi sebuah teori gravitasi. Sungguh Allah maha mengetahui segala sesuatu yang tak pernah kita tahu. Sahabat, pernahkah kita terpikir dengan semua yang terjadi dengan kita, semua yang kita dapatkan selama ini tak terlepas dari hikmah.

Manakala kita mendapat sesuatu dan menganggap itu sebagai sebuah nikmat, maka syukuri janganlah kita menjadi kufur. Sahabat, pernahkah kita terpikir manakala kita menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis tapi bukan hubungan sebenarnya “pacaran”, apakah kita berpikir itu sebuah nikmat? Apakah ketika kita menyatakan perasaan suka kepada calon pacar tentunya dengan perjuangan bejibun, terus kita diterima oleh calon pacar, apakah itu sebuah nikmat? Ataukah sebaliknya setelah berusaha mati-matian namun akhirnya adalah di tolak apakah kita menganggapnya sebagai sebuah musibah?

Bagaimana menurut sahabat semua dengan kedua pendapat tadi?apakah sahabat setuju, ketika diterima itu adalah sebuah nikmat namun ketika ditolak merupakan sebuah musibah?ataukah sebaliknya? Pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan yang mungkin oleh sebagian besar pemuda sekarang dianggap remeh dan mungkin tidak penting atau bahkan tidak usah dibahas. Sebenarnya ketika kita menganggap ketika kita diterima oleh seseorang itu adalah sebuah musibah, kenapa demikian?

Hal ini tidak terlepas dari aktifitas yang nantinya akan dijalani kedepannya, kita akan menjadi penabung dosa harian. Kenapa kok bisa? Ya…coba sahabat perhatikan bagian mana aktifitas pacaran yang tak mengandung dosa? Minimal dosa kecil kan didapat, sampe dosa yang paling besar pasti kan didapat…lantas ada yang ngomong “kan pacaran kita adalah pacaran islami” ah…mana ada pacaran yang islami, dimana letaknya pacaran itu islami. Kalaulah memang sudah siap segalanya, maka menyatakan perasaan cinta dan sayang langsung saja dengan cara mengkhitbahnya, bukan “menembaknya” dengan tujuan pacaran.

Mungkin sebagian besar pelaku pacaran akan mengemukakan alasan yaitu, “kan dengan pacaran kita akan mengenal bagaimana karakteristik calon pasangan kita kelak?” masa iya??? Ingat lho, kegiatan pacaran itu penuh dengan kulit kebohongan…nah lho..itu aja sudah sebuah dosa, bagaimana tidak? Pada acara pacaran kita akan berusaha menampilkan yang baik-baik saja kepada pacar kita, yang jelek-jeleknya akan semaksimal mungkin kita sembunyikan. Namun ketika menikah barulah terlihat tuh bolong-bolongnya, baru deh sadar bahwa pasangan kita ternyata banyak minusnya..kalau sudah begitu bagaimana tidak menyesal?

Sahabat…marilah kita renungi setiap lintasan hati kita, manakala kita tertarik kepada lawan jenis, maka yang perlu kita lakukan adalah senantiasa berhati-hati jangan sampai kita terjerumus kedalam jurang pacaran, jagalah perasaan cinta dan sayang dengan bingkai cinta suci Rabb kita. Ingat masa indah itu akan tiba pada masa yang sudah ditentukanNya, masa pacaran nanti kan kita nikmati tentunya “pacaran” yang halal. Ya pacaran setelah nikah sungguh indah, namun jangan sampai salah pilih, jangan ada kata menyesal kala sudah kita putuskan, ikhlaskan hati dan bersabar dengan semua yang didapat. Insya Allah.

 

Asbah Al bhugury

Hamba Allah yang dhoif