Sahabat, kepada siapa kita meminta pertolongan kala kita ditimpa suatu musibah ataupun kesusahan? Lantas kepada siapa pula kita menggantungkan harapan ketika kita berada di ujung suatu masalah? Terkadang yang terlintas pertama kali dalam pikiran kita adalah makhluk, entah itu orang tua, saudara, suami/istri, sahabat, teman atau siapapun yang kita anggap mampu membantu ketika kita dilanda kesusahan.

Pernahkah terlintas pertama kali dalam hati dan pikiran kita yang dimintai pertolongan adalah Allah sang pencipta semua itu, pernahkah Dia kita jadikan yang pertama dan utama dalam meminta dan memohon pertolongan, yang kita jadikan sebagai tempat menggantungkan harapan satu-satunya. Bukankah setiap kali kita menghadap kepadaNya 5 kali dalam sehari kita terus menyebutkan dan mengikrarkan sebanyak 17 kali, sudahkah kita hayati itu?ataukah hanya sebatas numpang lewat saja melalui bibir ini sebatas untuk menuntaskan kewajiban semata.

Kalaulah kita hayati secara mendalam bahwa kita harusnya menempatkan Dia sebagai pelabuhan utama dari semua pinta dan harapan kita, tidak ada lagi selain Dia yang kita jadikan tempat pelabuhan harap dan pinta. Semua kita pasti hafal seluruh ayat dalam surat Al Fatihah dari ayat 1 sampai 7, bahkan anak TK pun sudah mampu menghafalnya. Namun sudahkah kita merenungi kandungannya, satu ayat saja yang berkenaan dengan bahasan kita kali ini yaitu ayat ke-5.

“5.  Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].”

Ayat itu setiap hari tak lepas kita ucapkan setiap kali kita “melapor” kepadaNya, sudahkah kita renungkan makna yang terkandung didalamnya ataukah hanya lewat begitu saja. Mari kita semua mulai merenungkan makna yang terkandung didalamnya tersebut dan mulai meyakinkan diri untuk senantiasa berusaha mengamalkannya. Tentu saja tidak hanya ayat ini yang perlu kita hayati serta renungi makna yang terkandung didalamnya namun semua ayat yang ada dalam “surat cintaNya”, jadikan itu sebagai pedoman hidup kita.

Sungguh kita kan merasa malu kala merenungi ayat ini secara mendalam dan menyelaraskan dengan perikehidupan yang ternyata banyak diperbudak oleh dunia serta makhlukNya, tidak sedikitpun kita ingat kepada Allah kala kita ditimpa suatu kesusahan. Sungguh malu diri ini ternyata selama ini banyak lalai, banyak ingat makhluk ketimbang Dia apakah itu tidak termasuk secara tidak langsung kita sembah?kita serahkan seluruh cinta kepada pasangan kita tanpa kita pedulikan Allah sedikitpun, coba kita lihat bagaimana sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta begitu lengket, begitu mesra mereka tanpa mempedulikan hukum dan laranganNya. Apakah tidak termasuk kita sembah pasangan kita itu?yang ada dalam ingatan kita setiap detiknya hanya dia dan bukan Dia, ketika kita makan memang kita baca basmallah namun yang teringat dalam benak dan pikiran kita serta hati kita hanya dia, apakah dia sudah makan atau belum tak ada sedikitpun kita baca basmallah seraya kita ingat Dia ucapan itu hanya melintas dengan mulusnya sebatas di mulut saja.