Awalinya segala sesuatunya dengan niat yang lurus, dengan tekad yang murni. Penyesalan tak kan datang diawal perjalanan, penyesalan tak kan hadir pula di tengah perjalanan namun penyesalan senantiasa hadir diakhir perjalanan. Segala sesuatu yang diawali dengan niat yang kurang bersih maka kan hadirkan penyesalan yang tak terperi, yang hanya bisa diratapi tanpa mampu diobati. Mencari seseorang yang bisa diajak hidup senang ternyata sangatlah mudah, sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya, namun ternyata sangatlah langka mendapatkan seseorang yang mampu diajak hidup susah, berjalan diawali dengan minus bukan lagi nol.

Salahkah kita yang hidup serba kekurangan? Tak pantaskah kita mendapatkan sesuatu hanya karena kita hidup serba kekurangan? Mencari teman yang mampu diajak tertanya sangatlah mudah, tanpa dicari pun kan datang sendiri. Namun mencari kawan seiring jalan ketika menangis teramat sangat susah, bahkan lalatpun enggan hinggap di tubuh kita. Mengawali perjuangan hidup dari minus butuh teman, namun kalaupun teman yang seharusnya mendampingi kita ternyata punya visi berbeda tak mampu hidup dalam keadaan minus maka badan ini semakin meradang.

Tubuh seakan luluh lantak, teman yang jadi harapan kan mampu berjuang, ikhlas menerima ternyata tak mampu menghadapinya. Luntur oleh kawan yang hidup lebih mapan, mungkinkah teman penopang harapan itu berpaling? Kalaupun kelak berpaling, diri tak mampu berbuat banyak karena memang diri tak punya apapun yang mampu tuk diberikan. Kalau saja dibanding dengan kawan dari teman itu sungguh diri kan kalah telak, diri hanya punyai harapan pada Sang Pemilik takdir, tak punyai dunia yang berkilau. Namun kawan dari teman punyai segalanya.

Ya Rabb…diri hanya mintai keikhlasan yang berlimpah, kesabaran yang tebal, kuatkan iman. Karena hanya itulah yang dipunyai sekarang. Bukanlah diri tak ingin bertahan, meski asa masih berharap penuh agar jalinan ini tak putus, diri hanya minta teman yang ikhlas menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan, kekurangan harta, kekurangan ilmu, terlalu banyak dosa…ah..adakah teman seperti itu di dunia ini? Yang mampu terima segala kekurangan itu, apakah nasib diri hidup sendiri tanpa teman yang mendampingi di dunia dan akhirat?

Ya Rabb…terasa banyak dosa dalam diri yang terhimpun, terasa sudah kedzaliman terhadap orang lain, jika ini adalah hukuman dariMu, diri hanya mintakan satu hal kecil dariMu ya Rabb…yaitu keikhlasan yang melimpah, serta kesabaran yang tebal tanpa batas. Ya Rabb…mungkin diri sudah tak pantas menerima cinta dan kasih dari makhlukMu?karena diri yang serba kekurangan ini? Ya Rabb…dengan rahmatMu yang kau turunkan ke bumi…diri haturkan taubat, takut sekiranya Engkau panggil diri ini masih bergelimang noda dan dosa…

Apakah memang diri harus kembali hidup sendiri, ditinggal teman dan cahaya kecil yang Engkau amanahkan? Haruskah diri sepi sendiri sepanjang hidup hanya karena tak punyai harta dunia? Apakah kebahagiaan hanya diukur oleh harta yang melimpah? Apakah diri tak boleh merasakan kebahagiaan hanya karena diri hidup dalam kefakiran serta kemiskinan?

Ya Rabb…hamba mohonkan ampunanMu kalau selama perjalanan hidup diri ini terlalu banyak dosa yang tersimpan, terlalu banyak kedzaliman yang dilakukan….hanya padaMu diri ini berserah dan mengadu…karena sungguh tak ada tempat lagi untuk mengadu selain kepada Engkau ya Rahman…tak ada lagi yang mau menampung kesah diri yang penuh debu dan noda ini..selain hanya padaMu…entah harus kepada siapa lagi diri ini bersandar selain hanya padaMu…

Saudaraku semua…jadikan awal perjalanan kita dengan awal yang baik, janganlah sampai ada penyesalan dikemudian hari….kalau ada suatu pilihan maka pilihlah dengan sepenuhnya, jangan sampai ditengah perjalanan kembali memilih sedangkan ikatan sudah terjalin, janganlah sampai kita melepas ikatan hanya karena kembali memilih yang lebih dari yang sudah ada, janganlah berkata punyai visi berbeda kala perjalanan sudah jauh, setiap kita pasti punya visi masing-masing, namun ketika suatu ikatan telah terjalin maka leburkan visi kita dengan keikhlasan dalam menerima teman pejalanan kita apa adanya, karena setiap tali punya corak yang berbeda…karena perbedaan itulah rahmat, kalau semua ingin sama maka dunia ini tak akan berwarna. Pelangi tak akan indah manakala hanya di dominasi oleh satu warna. Dunia tak akan sejuk dipandang jika hanya di hiasi oleh satu warna. Begitu pula kehidupan kita semua, tak kan indah manakala hanya flat dan datar.

Jalan tol tak selamanya lurus, karena ada kalanya berbelok dan ada kalanya menanjak serta menurun, memang jalan tol yang lurus kan cepat sampai, namun hati-hati karena terlalu flat kan mudah membuai orang hingga mengantuk dan sebabkan kecelakaan, dengan adanya jalan berliku, menanjak serta menurun, berlubang maka perjalanan menjadi terasa mengasyikkan.

Sesama saudara kandung bisa berselisih, namun tetap terangkai oleh bingkai keluarga. Suami istri pasti berbeda, beda karakter, beda sifat, beda visi…namun tatkala tak ada ego yang mendominasi maka hal itu akan berjalan seiring itulah ikatan yang kuat. Jika salah satu lebih mengedepankan ego dengan memandang visinya lebih baik, maka salah satu akan terbanting, tersakiti, terhempas.

Saudaraku, yang hendak mengikatkan tali suci, hendaklah punyai keikhlasan dalam diri masing-masing untuk senantiasa mampu menerima keadaan pasangan kita kelak…sekali lagi jangan sampai ego diri lebih besar. Saling menghargai menjadi kunci kesolidan, keikhlasan dan kesabaran menjadi perekat ikatan suci.

Bandung, 30-05-2012