Apa yang kita rasakan manakala kita dibenci oleh orang lain? Apa yang akan kita perbuat manakala kita dibenci dan bahkan dijauhi oleh orang lain, apakah kita akan membalasnya dengan sesuatu yang lebih bahkan mungkin lebih keras lagi dari apa yang kita terima? Sungguh seorang Ibnu Taimiyah telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menyediakan sedikit ruang untuk menampung segala macam kebencian orang yang kan kita terima, manakala kita mendapatkan kebencian orang boleh jadi itu adalah sedikit dari jalan yang Allah berikan untuk memberikan keutamaan kepada kita.

Kebencian yang tertuju kepada kita, haruslah kita periksa apakah kebencian orang itu adalah sesuatu yang memang berhak kita terima ataukah sesuatu yang sengaja orang lemparkan kepada kita karena sesuatu penyakit yang menimbun orang lain?

Kalaulah kebencian itu merupakan bukan menjadi hak kita untuk menerimanya, maka tempat penampungan kebencian itu akan serta merta mengolahnya dan menguapkannya kembali menjadi udara seiring nafas-nafas yang kita hembuskan ke udara seperti halnya proses fotosintesis yang menyerap zat yang berbahaya bagi manusia CO2 menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat lagi menyegarkan bagi kehidupan seluruh manusia yaitu zat O2 alias oksigen.

Begitu pula dengan ruang kebencian, ruang itu akan menampung seluruh kebencian yang ditujukan kepada kita untuk menjadi segala sesuatu yang bermanfaat. Akan menjadikan kita menjadi mempunyai ketahanan diri yang tangguh, menjadikan diri seorang yang ikhlas dan lapang namun bukan menyerah pada keadaan begitu saja, yang menjadikan diri senantiasa membalas keburukan dengan kebaikan, membalas air tuba dengan air susu, mengubah sampah menjadi kompos dan pupuk.

Sungguh perlulah kita menyediakan ruang untuk dibenci, karena sungguh tak ada ruginya kala kita menyediakan sedikit ruang itu, bahkan keuntungan terbesarlah yang kan kita peroleh manakala ruang tersebut telah beroperasi dengan baik. Namun demikian, kebencian yang kita dapatkan perlu kita perhatikan karena kalau memang kebencian itu patut dan selayaknya kita dapatkan maka penampungan itu akan menjadikan kita untuk lebih berfikir kedepan agar mampu lebih baik serta menjadi ajang evaluasi diri, muhasabbah akan segala tindak tanduk yang telah kita lakukan, jadikan itu sebagai rambu-rambu peringatan agar kita bisa mengerem diri atas semua kekhilafan yang telah kita lakukan.

Sunggu Allah Maha Menyayangi setiap hamba-hambaNya, oleh karena itu Allah mengirimkan hambaNya yang lain untuk membenci kita agar kita tahu letak kesalahan kita. Karena kalaulah kita tak dibenci maka kita akan terus berkubang di lembah kenistaan dan dosa, sungguh nikmati rasa kebencian yang ditimpakan kepada kita. Jadikan ianya sebagai obat untuk senantiasa menjadi kita menjadi pribadi yang tangguh nan unggul, menjadi pribadi yang layak untuk dicintai oleh Allah, jadikan kebencian orang sebagai tonggak perubahan serta memperkuat sistem imun keikhlasan dalam diri kita.

Jadikan kebencian yang layak kita terima sebagai obat pahit yang harus kita telan sepenuhnya agar hati kita menjadi sehat kembali, agar Allah siap menerima kita kembali dan menempatkan kita ditempat yang Dia cintai, di tempat dimana orang-orang terkasih Dia tempatkan, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang deras yang sejuk lagi menyejukkan. Jadikan kebencian orang sebagai alat evaluasi bagi diri untuk senantiasa mengevaluasi kita, buat apa pujian dari manusia apabila Allah sangatlah murka kepada kita. Raihlah kecintaan Allah lewat jalan kebencian, janganlah kita menjadi orang yang dipenuhi rasa kebencian kepada orang lain namun sediakan tempat untuk menampung kebencian kepada kita, agar setiap kebencian yang kita terima bisa diolah dan menguap bersama udara yang senantiasa kita hembuskan.

Ya Rabb…jadikan diri ini menjadi pribadi yang mempunyai ketahanan diri yang kuat dalam menghadapi setiap kebencian yang diri terima, ampuni diri karena telah banyak khilaf dan dosa yang telah diri lakukan hingga diri layak menerima setiap kebencian, namun satu harap jadikan diri seorang hamba yang senantiasa bisa mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi pribadi yang Engkau cintai, serta tempatkan diri di tempat yang Kau muliakan bersama orang-orang yang Engkau Kasihi.

 

Depok, Muharram 1943 H