Wajah layu yang termakan usia, gurat wajahnya kian terlihat jelas. Pundaknya pun kini tak lagi begitu kekar, sayu matanya menahan derasnya air mata karena tak kuat lagi menahan jebolnya bendungan hati yang kian tergerus setumpuk masalah. Suara yang berat keluar jelas menampakkan jiwa yang penuh kesedihan karena di timpa segudang masalah, namun dia tetap tidak tak tega membiarkan kita terlunta.

Sungguh rasa tanggung jawab yang begitu besarlah yang membuat dirinya bertahan, walaupun harus menahan terjangan badai masalah yang begitu besar bak gelombang tsunami menerjang menghempaskan dinding pantai yang terlihat kokoh. Jiwanya kini kian rapuh…rapu serapuh kayu yang kian lama menjadi lapuk karena termakan rayap.

Sahabat, pernahkah kita membayangkan wajah sayu itu yang senantiasa menanti kita di tempat nun jauh di sana…terus berusaha walau langkah kaki sudah tak setegar dahulu, tetap bekerja walau tangan sudah tak lagi kekar. Jiwanya kini harus menahan tangis dan sedih demi cita-citanya  melihat sang harapan jiwanya berhasil menjadi manusia seutuhnya.

Sahabatku…pernahkah kita perhatikan ayah kita, pernahkah kita perhatikan raut wajahnya yang kian menua, pernahkah kita melihatnya dikala sendiri terpekur menahan tangis karena himpitan masalah yang mendera dirinya, keluarganya dan jua yang mendera anak-anaknya.

Sungguh terkadang kita melupakan mereka dikala kita senang, kala kita berkumpul dengan teman-teman kita…ya, kita malah asyik dengan kehidupan kita sendiri kala jauh dari mereka, bahkan kadang kita marah kala tak searah, kadang kita merasa jengkel kala mereka meminta tolong walau sedikit saja.

Sahabat…tak tahu kah bahwasanya ayah kita senantiasa mendoakan yang terbaik untuk kita, dia akan terus berusaha walau harus menahan lapar asalkan sang anak bisa kenyang, dia senantiasa menyembunyikan tangis dan sedih asalkan anaknya tersenyum, dia rela hidup dalam kekurangan asalkan putra-putranya hidup berkecukupan di tempat yang jauh.

Dia senantiasa bangun di tiap-tiap malam untuk mendoakan keberhasilan putra-putrinya, ketika kita sedang terlelap tidur dengan begitu nyenyak dan nikmat. Dia senantiasa mengingat kita di setiap detiknya, walaupun kita tak pernah ingat beliau sama sekali. Di setiap selesai shallat, do’a senantiasa terhatur untuk putra-putrinya, namun kita selalu egois berdo’a hanya untuk diri sendiri bahkan bait do’a yang teramat pendekpun terasa berat untuk kita lantunkan.

Saudaraku…sadarkah kita semua akan hal ini???? kadang kita bangga membeli barang yang begitu bagus, namun tak pernah terucap dari bibir kita ucapan terima kasih untuk sang ayah. Bukanlah balasan materi yang mereka inginkan, bukan pula uang yang mereka harapkan. Karena hanya sejumput senyum manislah yang mereka harapkan dari putra-putrinya, secercah harapan kala putra-putrinya bisa menjadi orang yang berhasil menjadi manusia yang penuh ketaatan, ketaqwaan, keimanan, dan jua kepatuhan…

Sahabatku semua…sudahkah hari ini kita sodorkan secarik maaf, sudahkah kita ajukan sejumput do’a untuk mereka…marilah kita buat bangga ayah kita dengan raihan prestasi, dengan kadar keimanan serta ketaqwaan kita yang terus meningkat…buatlah ayah kita bangga di akhirat kelak, karena mampu membawa keberkahanNya…Aamin.

Depok, 25 Rajab 1432 H/27 Juli 2011

Sumber gambar:

buyuangblogger95.blogspot.com