Cahaya itu masih temaram, belum jelas kelihatan dari jauh namun baru berupa bercak merah seperti titik merah yang menempel di kain yang hitam kelam. Namun demikian jejak langkah kaki ini tak henti tuk menuju bercak sinar merah nan kecil, dengan langkah yang pasti kaki terus berjalan menatap seberkas sinaran kecil nun jauh didepan sana. Ditemani oleh sahabat-sahabat sejati yang tak nampak pula, sahabat yang senantiasa menemani kala suka maupun duka yang senantiasa tak pernah tidur walau sahabat yang satu ini tidur, yang tak lengah kala sahabat ini sedang lengah, yang teliti mencatat apa yang senantiasa sahabat ini lakukan.

Langkah kaki ini semakin lama kian kencang, dengan sejuta harap yang terus digantungkan pada tali gantungan yang Maha Kuat, berbalut keikhlasan. Walau sesekali kaki terantuk batu, karena memang keadaan gelap. Sungguh semakin lama cahaya itu semakin kuat dan semakin membesar, namun dalam hati terbesit pertanyaan apakah sinar itu mau menerangi jiwa yang lama gelap itu. Semakin lama semakin berlari semakin kuat pula pertanyaan itu memutari pikiran, entah apa yang terjadi rasa pertanyaan itu semakin menjadi.

Sungguh ada musuh yang terus membisiki tuk menjauh, namun kaki teruslah mantap berjalan dengan semakin menancapkan kaki hingga membekas di tanah yang dilewati agar tak roboh oleh bisikan dan gertakan musuh yang tak kenal lelah tuk menjatuhkan pijakan kaki agar terhenti langkah kaki itu agar tak sampai pada cahaya kecil nan temaram. Sungguh semakin dekat dirasa semakin berat jejak langkah yang diayunkan, entah apa lagi yang merintangi. Sedang niat terus menguat dan meluruskan diri, namun apa yang terjadi selanjutnya….(bersambung)