Sebuah kapal layar siap mengarungi lautan lepas yang jauh disana penuh dengan ombak yang besar, badai, serta karang yang mungkin kan menghambat laju perahu untuk sampai tujuannya. Di dalam kapal itu terdapat kapten kapal yang profesional, ABK yang tangguh, teknisi kapal yang handal.

Ketika jangkar siap untuk diangkat, saat itu pula setiap komponen mulai bekerja, saling membahu untuk kelancaran laju kapal, saling berkoordinasi agar kapal melaju dengan aman. Semua harus mulai bekerja sama, tidak mementingkan ego masing-masing, tidak mementingkan pengalaman masing-masing. Kenapa begitu, ternyata dalam kapal itu setiap komponen tadi merupakan orang-orang yang baru pertama kali bekerja sama dalam satu perahu, walau sang kapten sangat profesional dalam pekerjaannya, pengalamannya banyak dalam memimpin ekspedisi perjalanan namun kini yang dia hadapi adalah kapal yang baru dan anggota yang baru pula.

Begitu juga dengan ABK dan tekhnisinya, mereka orang-orang yang baru walaupun kemampuannya tak usah lagi dipertanyakan. Disini perlunya kerja sama, karena ketika jangkar telah diangkat, tali tambang yang tertambat di pelabuhan telah di lepas, layar telah terkembang maka saatnya perahu itu berlayar menuju laut lepas yang penuh dengan badai serta ombak yang tinggi yang kan menerjang laju kapal. Bagaimana setiap komponen yang ada dalam kapal itu bisa saling bahu membahu agar kapal tak karam, mungkin kapal kan oleng namun jangan sampai oleng dan menenggelamkan kapal itu sebelum sampai ke tujuannya.

Nah sedikit ilustrasi itulah yang mengawali tulisan ini mengenai bahtera rumah tangga, kala dua insan yang mungkin sudah terbiasa berjuang sendiri, sudah terbiasa menerjang halangan dan rintangan dalam kehidupan akhirnya bertemu dengan seseorang yang kan menjadi teman dalam melayari luasnya lautan rumah tangga. Bertemu disatu pelabuhan untuk bersama mengarungi lautan rumah tangga, perlu kerja sama antara keduanya dalam mengarungi lautan itu agar kapal tak karam diterjang ombak, tak hancur di hempas badai.

setiap insan harus bisa mengisi kekurangan pasangannya, jangan malah di sesali atau bahkan dijadikan bahan ejekan. Seperti halnya sang nakhoda dengan ABK, saling bahu membahu bekerja sama. Hilangkan keegoan diri, hilangkanlah rasa paling, yaitu paling pintar, paling smart, paling kaya, paling cantik or paling cakep, dan paling-paling yang lain. Tapi yang dibutuhkan adalah kata kita, yaitu kita bersama, kita bekerja bersama, kita berjuang bersama, kita dan kita. Jadi haruslah menyatukan keinginan menjadi keinginan satu yaitu menggapai ridho Allah.

Karena mengarungi lautan itu, adalah tujuan akhir atau pelabuhan akhirnya adalah ridho Allah dan RasulNya. Hingga kapal tadi bisa selamat sampai ke pelabuhan tujuan akhir dan mendapatkan bonus berupa JannahNya kelak..insya Allah.