Seharusnya negara Indonesia ini merupakan negara yang paling bersih dari korupsi, karena memang Indonesia ini merupakan negara dengan jumlah jama’ah haji dan umrah terbesar setiap tahunnya (Ari Ginanjar). Pertanyaannya adalah kenapa bisa begini?

Apakah haji dan umrah mereka hanya sebatas jalan-jalan semata?

Apakah haji dan umrah mereka hanya sebatas ritual fisik semata?

Apakah haji dan umrah mereka tidak sampai meng-haji-kan dan men-umrah-kan hati, pikiran serta prilakunya?

Subhanallah…apa yang terjadi dengan ini, bukan bertujuan untuk suudzon, mungkin inilah ciri haji yang tidak mabrur. Mereka melaksanakan haji hanya ingin mencapai derajat dihadapan manusia, bukan untuk meraih keridhoan Allah. Memang tidak semua begitu, insya Allah dari sekian banyak yang “tidak mabrur” saya yakin tidak sedikit juga yang insya Allah mencapai derajat mabrur dengan mendapatkan keridhoan Allah.

Namun demikian, kalangan ini masih kalah jumlah. Walaupun begitu insya Allah jumlah dalam hitungan manusia tidak akan berpengaruh tatkala Allah meridhoi dan melindungi langkah orang-orang yang mendapatkan derajat mabrur tadi agar mampu merubah negara ini menjadi negara yang berperadaban, yang setiap langkah rakyatnya tak lepas dari langkah dakwah, yang setiap nafasnya tak lepas dari qur’an dan sunnah, setiap detak jantungnya tak lepas dari dzikrullah.

Insya Allah setelah itu, masih ada harapan agar negara ini menjadi negara paling bersih, mungkin tidak paling bersih namun setidaknya korupsi bisa ditekan hingga limit yang paling kecil. Hingga kita bisa meninggalkan predikat tiga besar negara paling korup di dunia, hingga lahir negarawan yang peduli akan nasib bangsanya, peduli akan kesejahteraan rakyatnya…Harapan itu masih ada, Insya Allah.