Allah tidak akan merasa rugi sekiranya semua manusia berbuat dosa, begitupula sebaliknya Allah tidak akan merasa untung apabila semua manusia beribadah. Karena memang semuanya itu kembali kepada kita semua, sesungguhnya ketika kita berbuat dosa sebenarnya kita telah menabur ranjau yang pasti akan kita injak dan pasti akan menyakiti kita. Ketika kita berbohong, sesungguhnya kita bukan berbohong kepada orang lain, melainkan telah berbohong pada diri kita sendiri. Ketika kita tidak mampu menjaga pandangan, maka sesungguhnya kita tidak sedang melihat yang indah namun sedang melihat ranjau kita yang pasti akan kita injak.

Ketika ranjau kita sudah banyak dan seringnya kita menginjak maka hati akan sakit, hati akan merasa resah gelisah, tidak tenang karena ranjau-ranjau dosa yang kian menghujam melukai hati. Maka oleh karena itu, hati-hatilah ketika akan melakukan sesuatu perbuatan dosa, karena selayaknya hal itu akan kembali kepada kita. Sungguh ketika kita menunaikan shallat, sejatinya kita sedang mengharapkan pengampunan Allah, bukan pahalanya. Karena tanpa pengampunan Allah maka tidaklah akan berarti hidup ini. Sungguh bagaikan mayat hidup yang berjalan, oleh karena itu sebelum masa itu tiba, sebelum habis masa edar kita di dunia ini perbanyaklah taubat, tebalkan asa dan harap pada Allah, harapkan hanya pengampunan dan keridhoan Allah agar semua ibadah kita dinilai olehNya sebagai ladang ibadah kita.

Semoga kita semua termasuk kedalam golongan yang senantiasa berkaca sebelum melakukan maksiat, apakah kita sudah mampu untuk menahan gempuran ranjau dosa yang kita tebar sendiri. Apabila tidak ingin terjebak pada ladang
ranjau dosa maka sedari sekarang kita perbanyak taubat, taubatan nasuha, taubat yang sebenar-benarnya taubat.