“Allah tidak menciptakan mimpi, kecuali menjadi nyata.” (DR. Atha Barakat)

Membaca buku ini, seolah secara sengaja kita duduk di bawah sebuah pohon besar hijau nan rindang, di bentangan perbukitan indah, berhawa sejuk. Dan dengan khusyuk, kita menghadap seorang sosok yang sudah tua, berjubah putih, dan berjenggot lebat, yang mencerita kisah hidupnya. Ia begitu bijak. Raut mukanya menampakkan pendar ketegaran. Ia mungkin terlihat lelah, tapi kata-kata yang terkeluarkan, bukanlah keluhan apatah lagi makian. Kita, hanya mendapatkan hujan kalimat yang berisi motivasi, dan hikmah yang berhamburan di mana-mana dari setiap jenggal kisah hidup yang diceritainya.

Menembus batas. Kalimat sederhana yang biasa kita dengar di setiap harinya. Ia kemudian dijadikan judul buku ini. Sederhana. Dan mudah diingat. Tapi, isi buku ini, tidak sesederhana judul bukunya. Dan pesan utama buku ini, selain mudah diingat, saya berani menggaransi, kau takkan mudah melupainya.

Kita diajak mengarungi kehidupan seorang bapak dengan enam anak. Beliau bernama Budi Setiadi. Dari rahim tarbiyatul aulad beliau, lahir sosok generasi muda Islam yang siap menjadi teladan di kedepannya. Anak pertama, perempuan, lulusan Teknik UGM. Kini, ia tengah mempersiap diri, untuk S2 di Jerman. Anak kedua, mahasiswi Teknik Mesin ITB ini, bahkan pernah menolak beasiswa penuh dari Fakultas Kedokteran. Anak ketiga, laki-laki, si pemilik kemampuan membaca cepat, yang tengah belajar di Teknik Geodesi UGM. Anak keempat, perempuan, yang di usia 11 tahun telah berujar dengan lantang, “Aku ingin menjadi psikolog, masuk UGM!”, kini belajar di MA Al-Islam. Anak kelima, laki-laki, si pemberani, tercatat sebagai siswa Smart Ekselensia Indonesia, Bogor, dan beasiswanya hingga perguruan tinggi nanti, dari sekolah ini. Anak keenam, perempuan, sedang belajar di SD Al-Islam 2, anak ini, sepertinya akan bosan dengan nilai ujian yang sering seratus itu.

Oke. Itu sekelumit tentang penggalan kisah dari anak-anak muda generasi Islam yang saya katakan kelak akan menjadi teladan itu. Namanya juga sekelumit, jika ingin mendapatkan gambaran lengkap tentang prestasi mereka, silakan kawan-kawan mengarungi buku ini.

Ah, mungkin kawan-kawan merasa sudah biasa mendapati cerita tentang anak-anak cerdas nan pintar yang belajar di sekolah-sekolah favorit itu. Yah, saya juga. Mungkin lebih tepatnya iri yah. Sudah pintar, tempat belajarnya pun berkualitas. Tapi tunggu dulu. Bagaimana bila kejadiannya begini.

Keenam anak-anak itu, terlahir di sebuah desa yang bermilieu ‘hitam’. Kau jangan tanya kemaksiatan yang hadir di desa itu. Ia ibarat duri yang hadir di batang bunga mawar; banyak dan juga lazim adanya. Maka kemudian, jika keenam anak tersebut menjadi sosok yang paham agama, dan mementingkan pendidikan dalam hidup mereka, tentulah istimewa ceritanya.

Atau, bagaimana jika, tempat tinggal mereka, adalah kategori rumah sangat sederhana sekali sehingga susah selonjor, kemudian genteng yang sering bocor, dan gedeg yang masih saja setia menempel di beberapa bagian dinding mereka.

Atau, bagaimana jika, ibu mereka hanya seorang ibu rumah tangga biasa, dan ayah mereka hanyalah seorang ayah yang saat ini, hanya berpenghasilan 450.000 perbulan, yang di masa mudanya adalah non-muslim, kemudian menjadi seorang muslim, dan karena keislamannya itu, beliau diusir oleh keluarganya. Yah. Bapak itu, bermana Budi Setiadi. 450.000, di jaman seperti ini, pernahkan terbayangkan dalam benakmu untuk apa? Beli hape terbaru? Atau, beli spare part motor teranyar?

Kita belajar tentang keajaiban keteguhan

Entahlah. Sepertinya, ketika D’Masiv bersenandung Jangan Menyerah-nya itu, seolah tertuju kepada Pak Budi. Atau, Peterpan dengan Melawan Dunia-nya itu, juga seolah untuk Pak Budi. Atau, ketika kita ingat tentang ayat “la tahzan, innallaha ma’ana,” itu pun, seolah kita benar-benar baru merasakannya setelah melahap habis kisah yang terurai indah di buku ini.

Beliau adalah legenda hidup dalam cerita keteguhan. Ada satu bab kesukaan saya. Bab itu berjudul: Kemudahan-kemudahan dari Allah. Isinya, tentu saja tentang perjuangan Pak Budi dalam memperjuangkan agar anak-anaknya meraih pendidikan. Misalnya saja, tiba-tiba tersedia uang 1.300.000 di meja makan beliau, saat beliau benar-benar telah bingung, karena tak ada uang sama sekali untuk membiayai proses masuk anaknya untuk kuliah. Di saat segala ikhtiar talah dilaksanainya itu, tawakkal menjadi pilihannya, beliau berdoa habis-habisan memohon pertolongan-Nya. Atau tentang seseorang yang keturunan Arab yang tiba-tiba meminjaminya uang untuk membiayai istrinya yang di rumah sakit. Dan lain sebagainya. Ada banyak sekali keajaiban-kejaiban. Fiksi kah kisah ini? Tidak kawan. Bahkan, sepertinya, ini adalah Laskar Pelangi versi non-fiksi.

Ah. Baru kali ini saya benar-benar terbingung bagaimana me-review buku yang saya baca, agar kawan-kawan juga bisa merasai hikmah dan pelajaran dari setiap buku yang saya baca. Habisnya, mau bagaimana lagi. Ini seperti kita menguraikan kehebatan Zhilalil Qur’an-nya Sayyid Quthb hanya dalam dua halaman A4. Atau, kita disuruh memberi apresiasi terhadap Arbai’in An-Nawawiyah, hanya dalam satu halaman folio. Duhai, manusia mana yang tidak kebingungan merangkai katanya. Yah, ini karena kita tengah berbicara tentang sebegitu dalam dan bermaknanya buku-buku tersebut. Dan jika kita sudah berbicara tentang kedalaman makna, bibir akan pilu, jemari akan grogi merangkai kalimat. Dan saya yakin, hal yang sama, juga dirasai oleh tim redaksi, yang mencoba sebaik mungkin menyusun buku ini.

Sungguh. Pak Budi Setiadi, sangat layak untuk masuk Kick Andy. Bukan agar beliau terkenal. Tapi untuk memberi inspirasi kepada penduduk Indonesia, bahwa mereka yang biasa mengeluh dengan keadaan, mengacalah kepada Pak Budi ini. Atau, di versi saya, seharusnya bukan hanya Kick Andy, tapi juga Oprah Winfrey Show. Sepertinya, inspirasi dari beliau, terlalu sempit jika dibagikan hanya untuk penduduk Indonesia saja. Tapi, biarkan seluruh dunia mengambil inspirasi dari beliau!

Yah, inilah contoh nyata, seorang Muslim Inspiratif. Mari mulai mengaca diri dari beliau. Buku ini, saya rekomendasikan kepada para orangtua, para generasi muda, dan segenap manusia yang hidup di bumi ini, untuk menelaah habis buku ini. Saya sebagai garansinya. Jika kalian mendapatkan kekecewaan akan isi buku ini karena ternyata tidak inspiratif, kalian akan saya tantang untuk berdebat di mana letak tidak inspiratifnya.

Catatan Khusus

Penilaian buku ini, bintang satu sampai lima. Untuk kaver, saya kasih lima bintang deh. Benar-benar terkonsep! Salut untuk fotografer dan desain kavernya. Untuk layoutnya, sangat bersih dan rapi. Saya kasih bintang 4.5 deh. Saya suka dengan penjudulan di setiap bab. Benar-benar empatif. Sedangkan bagian editingnya, saya kasih empat deh. Ada beberapa kasus, di mana pungtuasi kurang diperhatikan. Ada yang harusnya miring, enggak miring. Hehe. Maklum, saya editor, jadi tahu betul urusan ini. Ala kulli hal, secara keseluruhan, WELL DONE! Salut dengan segenap tim yang telah bersusah lelah menyusun buku ini. Benar-benar menakjubkan. Saya ganjar di Casofa Award deh. Hehe. Gak penting yah. Tapi khan, CA khusus untuk buku-buku bermutu ajah dikasihnya. Yang salut lagi, tentu tim redaksi, yang berani berinisiatif untuk menerbitkan buku seperti ini.

Menembus Batas | Budi Setiadi dan Tim Redaksi | Ziyad Books | 180 Halaman

—————————–

Saya berharap, kawan-kawan bersedia untuk men-share ulang catatan ini. Dengan tujuan untuk berbagi inspirasi bagi sesama. Tenang, saya tidak bekerja untuk penerbit buku ini kok. Dan saya tidak dibayar dengan melakukan ini. Tapi, kalau memang ada sebuah karya yang inspiratif dan dapat menebarkan kebaikan, kenapa kita harus malu-malu diri untuk menyebarkannya. Iya khan? ;)

sumber : http://writhink.wordpress.com