Sesosok wajah tua renta itu terbangun di sepertiga malam, beranjak dari nyenyak tidurnya melangkahkan kaki untuk mengambil wudhu. Di hamparan sajadah dia tersungkur bersujud, mengharapkan cinta dari Sang pemilik cinta mengadukan semua persoalan hidupnya kepada Sang pemilik solusi.
Pada waktu yang sunyi senyap, tatkala manusia sedang asyik masyuk menikmati nikmatnya tidur. Wanita itu terbangun untuk menghampiri Allah untuk mengadukan segala masalahnya, untuk meminta hanya pada-Nya. Meminta kepada Allah untuk kesuksesan anak-anaknya, meminta agar Allah senantiasa menjaga anak-anaknya yang jauh dari dekapannya, agar Allah menjagakan hati dan akhlaq anak-anaknya…
Sambil menangis dia berharap agar Allah memberi hidayah pada anaknya, agar Allah senantiasa mengampuni dosa-dosa anaknya.
Sungguh mulia makhluk Allah ini…seorang wanita tua yang tak kenal lelah untuk mendo’akan anak-anaknya, walau mungkin anak-anaknya tidak jarang menyakiti hatinya lewat perilakunya, menyakiti hati seorang ibu yang rapuh dengan perkataan yang teramat pedas hanya karena melarang anak perempuannya untuk tidak sembarangan bergaul, mungkin kita sering menyakitinya dengan mengatakan ibu kita sebagai orang yang kolot atau kuno, ketinggalan jaman hanya karena melarang anak-anaknya berpacaran, hanya karena menyuruh anak perempuannya untuk menutup auratnya, kita tidak tahu betapa sedihnya ibu ketika anaknya berbuat kesalahan. Namun hal itu jarang beliau tampakkan dihadapan kita, ibu kalau menasehati kita dengan tutur kata yang halus dan penuh sayang, namun apa balasannya kita membalasnya dengan muka yang penuh muram durja bagai raja yang sedang murka kepada bawahannya, dengan kata-kata yang pedas bagai bicara kepada seorang yang sangat kita benci…
Ya…seorang ibu tetap akan dengan ikhlas mendo’akan agar anak-anaknya mempunyai akhlaq yang bagus kepada sesama, ibu dengan ikhlas menerima setiap caci maki kita, ibu senantiasa menerima setiap keluh kesah anaknya. Namun kita jarang sekali untuk mendengar setiap nasehat ibu kita, Sahabat pernahkah kita semua memikirkan itu?
Ataukah kita lebih sibuk memikirkan “pacar” kita yang sedang sakit, padahal ibu kita sakit kita sering merasa cuek. Mungkin kita lebih suka mengajak makan malam yang romantis bersama sang kekasih yang tidak halal, ketimbang mengajak makan sang ibu tercinta. Kita kadang memberi hadiah yang sangat spesial untuk menyenangkan sang kekasih tidak halal yang mungkin sumber dosa, namun kita juga sering memberi hadiah yang sangat spesial berupa caci maki, muka masam, amarah, kepada ibu kita.
Jujur…kita sering berlaku tidak adil kepada ibu kita…Sahabat marilah mulai sekarang kita perhatikan ibu kita, sebelum ibu kita pergi meninggalkan kita untuk selamanya, sebelum penyesalan itu menghampiri kita.