Apabila kita tidak merasa puas dengan makanan yang tersedia di meja, janganlah bersungut. Masih ada orang yang tidak memiliki apapun untuk dimakan.

Apabila kita mengalami kemacetan lalulintas, janganlah kesal. Masih ada orang di dunia ini yang belum pernah merasakan keistimewaan mengendarai mobil.

Apabila kita menghadapi suatu hari yang buruk di kantor, pikirkanlah seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan bertahun-tahun.

Apabila kita sedang putus asa atas suatu hubungan dengan seseorang yang telah menjadi tawar, pikirkanlah orang yang belum pernah merasakan bagaimanan mencintai dan dicintai kembali.

Apabila kita bersusah karena akhir minggu sudah akan berlalu, pikirkanlah seorang Ibu yang dengan terpaksa harus bekerja duabelas jam sehari, tujuh hari seminggu untuk memberi makan anak-anaknya.

Apabila mobil kita rusak, jauh dari pertolongan, pikirkanlah si lumpuh yang dengan senang hati akan mengambil kesempatan itu untuk berjalan.

Apabila tampak sehelai rambut putih baru di kaca, pikirkan pasien kanker dalam kemoterapi yang berharap ia masih mempunyai rambut untuk dilihat.

Apabila kita sedang mengalami kepedihan hati dan memikirkan apa arti hidup ini, lalu bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan hidupku? Bersyukurlah. Ada orang yang tidak hidup begitu lama untuk sempat bertanya.

Apabila kita menjadi korban kepahitan, kebodohan, kepicikan atau kegelisahan orang lain, ingatlah, hal itu dapat lebih buruk. Kita dapat menjadi mereka!

Tidak terhitung berapa kali kita bersungut-sungut untuk apa yang ada dan untuk sesuatu yang tidak kita sukai. Jarang sekali kita memikirkan mereka yang mungkin mengalami sesuatu yang lebih parah daripada kita. Mereka yang tidak bisa melihat, mereka yang tidak bisa berjalan, mereka yang tidak bisa mendengar, mereka yang bertahun-tahun terbaring karena sakit penyakit dan mereka yang tidak memiliki persediaan makanan serta rumah, masih bisa menjalani hidup ini dengan sukacita dan tawa. Mengapa kita tidak ?

Di dalam ucapan syukur ada kepuasan dan kebahagiaan